Halusinasi Multi Tasking

Saya dulu yakin bahwa multi tasking merupakan cara paling ampuh untuk menambah produktivitas sekaligus efesiensi waktu. Saya berpikir bahwa dengan melalukan banyak hal dalam satu waktu berarti dapat menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu.

Namun, sebenarnya tidak ada yang disebut multi tasking. Saya tidak melakukan banyak hal secara bersamaan. Saya hanya melakukan banyak hal dengan perpindahan antar aktivitas yang cepat. Terlebih, ternyata hal itu sebenarnya tidak membuat pekerjaan saya menjadi lebih efesien.

Sore tadi saya membaca sebuah artikel tentang multi tasking yang ternyata menurut beberapa riset dapat mengakibatkan otak bekerja secara tidak normal. Lebih lanjut dikatakan bahwa, hal tersebut dapat terjadi secara permanen.

Saya sedikit khawatir dengan keadaan saya belakangan ini. Saya sering tidak fokus pada satu hal dalam satu waktu. Misalnya, saya sering bekerja sambil chatting dengan teman yang tidak relevan dengan pekerjaan karena saya merasa bahwa saya bisa melakukan hal tersebut secara bersamaan. Nyatanya, hal tersebut menjadikan pekerjaan saya terbengkalai. Karena alasan itu, sejak beberapa bulan lalu saya mencoba berbagai aplikasi untuk meningkatkan produktivitas seperti, to do list, notes, calendar, dan lain sebagainya. But, nothing works.

Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil waktu libur sejenak, merenung, dan menenangkan pikiran. Saya meninggalkan segala pemikiran tentang pekerjaan yang ada. Namun, selama liburan, pikiran saya terus memanggil tentang pekerjaan apa yang harus saya lakukan berikutnya.

Saya sadar bahwa hal ini disebabkan oleh tekanan yang saya buat sendiri pada diri saya untuk achieve something. Saya menetapkan target yang keras pada hidup saya sehingga menjadi kaku dan terkesan ingin cepat mencapai target tersebut, mungkin itulah yang menyebabkan dulu saya senang dengan multi tasking. Selain itu, saya juga menekankan pada diri saya untuk learn everything. Saya menjadi kehilangan fokus untuk mempelajari sesuatu dan setiap saya ingin mempelajari sesuatu saya menetapkan deadline pembelajaran yang sama tanpa memandang tingkat kesulitan serta titik awal pemahaman saya tentang hal yang ingin dipelajari. Sebagai contoh, saya sering membaca beberapa buku sekaligus.

What to do, then?

Saya pikir hal terbaik yang perlu dilakukan adalah menyusun target serta milestones sehingga saya tidak terburu-buru mencapai target. Dalam penyusunannya, saya perlu mempertimbangkan prioritasnya. Saya tidak boleh mempelajari beberapa hal sekaligus.

Selain itu, saya juga mematikan notifikasi untuk layanan chatting di smartphone saya dan selalu membuat diri saya merasa tidak boleh terganggu oleh media apapun. Fokus pada satu hal.

Dengan fokus pada satu hal, saya rasa justru akan meningkatkan produktivitas saya dan tentu saja dengan fokus akan meningkatkan hasil kerja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s